Pelatihan Offline di masa New Normal

Management Development International pernah melakukan sebuah survey terkait efektivitas berbagai metode pembelajaran yang umum kita kenal. Dan hasilnya adalah, metode pelatihan tatap muka (offline) memiliki tingkat efektifitas yang palig tinggi, jika dibandingkan dengan metode pelatihan yang lain.

Peluang terbesar yang diberikan pelatihan tatap muka adalah kemampuan untuk berdiskusi, berkolaborasi, berlatih dan bermain peran, semuanya terasa hidup dan bersemangat, dengan bimbingan dari seorang fasilitator. Menjadi bagian dari kelompok dan merasa bertanggung jawab terhadap pelatihan adalah alat pembelajaran yang kuat, dan kesempatan untuk menerapkan pembelajaran ini merupakan alasan yang baik untuk menyatukan karyawan yang mengikuti pelatihan pada saat yang bersamaan.

Dengan adanya pandemic Covid 19 ini, peserta training memiliki perasaan takut dan cemas setiap kali harus berada di tempat umum, belum lagi adanya pembatasan jarak aman agar dapat meminimalisir resiko penyebaran virus, dan juga timbul pertanyan apakah pihak penyelenggara training mampu mengarahkan peserta untuk disiplin dalam menjaga kesehatan dan kebersihan selama kelas pelatihan berlangsung.

Melalui artikel kali ini, kami akan membagi panduan agar training offline diperusahaan Anda tetap dapat dijalankan, tetap efektif, dan pastinya dapat dilakukan secara aman.

  • Pertama memahami berapa jumlah peserta yang ideal berdasarkan kapastias ruangan. Dalam sebuah ruangan panduan aman adalah 20 orang, atau kita juga dapat menggunakan rumus : Luas Ruangan (M2)/4
  • Kedua pahami  layout serta tatanan duduk yang tepat dalam kelas. Anda bisa menggunakan tatanan duduk dengan model U-Shape Seating, Round Table Seating dan classroom seating.
  • Ketiga pahami arus lalu lintas didalam kelas. Arus lalu lintas di kelas menjadi bagian yang penting dan harus diperhatikan. Berlakukan system satu arah untuk arus lalu lintas, sediakan tanda (sign) yang mudah di lihat dan di pahami setiap peserta, usahakan ruangan yang digunakan menggunakan satu pintu masuk dan satu pintu keluar, jika ruangan memang hanya ada satu maka perlu di berikan pengaturan giliran masuk/keluar dengan jarak aman.
  • Keempat pahami panduan aktivitas low touch. Pastikan training melakukan pengaturan perlengkapan perorangan dengan tepat. Materi jka memunginkan berbentuk softcopy, merancang diskusi, role play dan permainan tanpa sentuhan dan minim kontak fisik antara peserta satu dengan yang lain, pastikan alat tulis tersedia untuk perseorangan, gunakan sanck box dan juga lunch box, dan minuman yang disediakan pun adalah minuman dalam kemasan, berikan anjuran agar peserta membawa wadah minum masing-masing.

Masih banyak perusahaan yang memilih metode pelatihan offline, disamping karena efektifitasnya juga karena pelatihan model ini sudah sangat familiar. Hal yang sama-sama kita ketahui, untuk berpindah dari satu kebiasaan lama ke kebiasaan baru butuh effort yang tidak sedikit, belum lagi perpindahan itu akan menghasilkan distorsi berupa reaksi denial ataupun resistant.

Training tatap muka tetap dapat dilakukan dengan aman, dan hanya butuh beberapa penyesuaian saja. Lakukan 3 hal ini, pertama sebelum kelas:

  • Pertama: lakukan pengecekan suhu, sediakan hand sanitizer, dan semprotkan disinfektan jika perlu
  • Kedua: layout kelas, batasi jumlah peserta, sesuaikan layout kelas dengan mengedepankan aturan physical distancing
  • Ketiga: perhatikan alat dan aktivitas yang akan dilakukan, fasilitator & peserta menggunakan alat pelindung diri, dan lakukan aktivitas “low touch”.
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *