[av_section min_height=” min_height_px=’500px’ padding=’default’ shadow=’no-shadow’ bottom_border=’no-border-styling’ bottom_border_diagonal_color=’#333333′ bottom_border_diagonal_direction=’scroll’ bottom_border_style=’scroll’ scroll_down=” id=” color=’main_color’ custom_bg=” src=” attach=’scroll’ position=’top left’ repeat=’no-repeat’ video=” video_ratio=’16:9′ video_mobile_disabled=” overlay_enable=” overlay_opacity=’0.5′ overlay_color=” overlay_pattern=” overlay_custom_pattern=” av_element_hidden_in_editor=’0′]

[av_textblock size=” font_color=” color=” admin_preview_bg=”]

Mengembangkan Intrapreneurship Dalam Perusahaan

Intrapreneurship

INTRAPRENEURSHIP SEBAGAI SEBUAH STRATEGI BISNIS

Intrapreneurship adalah sebuah strategi untuk menstimulasi inovasi dengan cara menggunakan talenta kewirausahaan. Bila dipupuk, dikelola, dilatih dan disalurkan secara efektif, intrapreneurship tidak saja akan menumbuhkan inovasi, tetapi juga akan membantu para karyawan yang memiliki ide-ide cemerlang menyalurkannya ke dalam perusahaan untuk mengembangkan produk dan jasa baru.

Beberapa pemimpin bisnis telah membuktikan hal ini. Mantan CEO General Electric, Jack Welch, berhasil membangun bisnis plastik untuk GE, dengan cara memulainya seperti bisnisnya sendiri. Lew Lehr, mantan CEO 3M, juga melejit dalam karirnya karena keberaniannya membawa 3M ekspansi ke industri alat-alat kesehatan, dengan spirit intrapreneurnya.

“Elemen penting dalam intrapreneurship adalah kemampuan dalam proses pengambilan keputusan.” Dengan memupuk etos kerja yang berspirit intrapreneur, karyawan akan merasa berdaya, dan mampu menjadi agen-agen perubahan yang dapat dengan nyaman mengungkapkan ide-ide baru dan berani mengimplemen-tasikannya.

 

Intrapreneurship adalah sebuah peluang untuk mengimplementasikan keterampilan bisnis dan bahkan wirausaha dalam sebuah perusahaan atau organisasi. Robert Wallace, seorang penulis dan CEO Bithgroup Technologies Inc. di Baltimore, berbagi beberapa tips mengenai apa yang dibutuhkan untuk menjadi seorang intrapreneur yang sukses :

  • Mengelola unit usaha membutuhkan keterampilan yang sama seperti mengelola usaha sendiri : berapa dana yang dibutuhkan, sumber daya apa yang dibutuhkan, apa nilai tambah yang diciptakan ?
  • Membuat Rencana Bisnis untuk pengembangan, kelanggengan dan pertumbuhan usaha, dengan memasukkan unsur perubahan dan inovasi. Mempelajari “the rules of the game” dalam perusahaan. Setiap organisasi memiliki budaya, dan budaya tersebut menentukan aturan-aturan bagaimana Anda dapat meraih sukses
  • Membangun mitra strategik yang akan membantu Anda. Agar ide-ide Anda dapat cepat terealisasi, Anda memerlukan pendapat dan dukungan dari para mentor, senior, dan jajaran manajemen yang dapat memberikan petunjuk dan arahan untuk mengelola iklim politik organisasi.

[/av_textblock]

[/av_section][av_section min_height=” min_height_px=’500px’ padding=’default’ shadow=’no-shadow’ bottom_border=’no-border-styling’ bottom_border_diagonal_color=’#333333′ bottom_border_diagonal_direction=’scroll’ bottom_border_style=’scroll’ scroll_down=” id=” color=’main_color’ custom_bg=” src=” attach=’scroll’ position=’top left’ repeat=’no-repeat’ video=” video_ratio=’16:9′ video_mobile_disabled=” overlay_enable=” overlay_opacity=’0.5′ overlay_color=” overlay_pattern=” overlay_custom_pattern=” av_element_hidden_in_editor=’0′]
[av_textblock size=” font_color=” color=” admin_preview_bg=”]

Jangan batasi pikiran Anda dengan hal-hal yang tidak berguna

Hilangkan batasan pikiran Anda untuk melakukan sesuatu atau memulai suatu usaha, Anda akan membuka usaha tapi malu dengan tetangga, takut dicemooh, takut akan bangkrut, takut tidak lancar, takut tidak berhasil dan ketakutan-ketakutan yang lainnya yang akan membatasi ruang lingkup pikiran Anda untuk berkembang.

Ciptakan input konstrukstif

Caranya tentu saja dengan mencari lebih banyak informasi dan pengetahuan melalui bacaan, referensi, internet, bergaul, nonton bioskop, ngobrol dengan siapa saja, jalan-jalan melakukan pengamatan, dsb. Mencoba untuk keluar dari rutinitas sehari-hari. Belajarlah melihat apa yang tidak terlihat. Dengan membiasakan diri untuk memiliki rasa keingintahuan yang besar akan membawa kita menjadi orang yang pertama punya ide-ide tentang apa saja.

Bangkitkan keberanian berinovasi

Keberanian dan keingintahuan adalah dua sifat yang memang harus dimiliki oleh orang yang kreatif. Semangat untuk berani berinovasi ini penting untuk dikembangkan agar diri kita terkondisi selalu berpikir kreatif. Ingat seorang Thomas Alfa Edison pun berani mencoba hingga lebih dari seribu kali, hingga akhirnya berhasil menemukan bola lampu pijar. Kegagalan bukanlah akhir dari usaha akan tetapi kegagalan adalah pelajaran yang berharga yang mengajari kita bagaimana cara yang benar. Karena kegagalan telah memperlihatkan kepada kita kesalahan yang telah kita lakukan.

Pikirkan kembali pikiran Anda

Saat merasa telah puas dengan pemikiran atau ide yang diperoleh, sebaiknya perlu untuk dipikirkan kembali dan dianalisa dari cara pandang yang berbeda. Semakin banyak jenis pemikiran yang didapatkan maka akan semakin banyak pula ide-ide kreatif yang bakal diperoleh. Semakin banyak pula alternatif keberhasilan kita.

Ubah ide lama menjadi ide yang lebih baru

Sebuah ide usaha yang kreatif biasanya juga berasal dari ide-ide usaha lama yang dicoba untuk ditampilkan secara lain dan berbeda. Namun harus ada kelebihan-kelebihan (benefit) lain yang hendak ditawarkan. Juga tentunya untuk memberi kemudahan dan kenyamanan bagi end user-nya.

Menjadi kreatif atau tidak, pada akhirnya berpulang kepada diri kita masing-masing, karena kesuksesan di dunia usaha tergantung kepada sejauh mana upaya kita untuk berjuang mewujudkannya.

Semoga bermanfaat!

MDI News No. 193/XIX/September 2013

Untuk informasi dan jadwal training lebih lanjut silahkan hubungi kami di nomor 021-668 1571 atau 021-668 1572 atau kirimkan email ke training@mditack.co.id

[/av_textblock]
[/av_section]