Kombinasi antara pandemi dengan melemahnya ekonomi membawa tantangan yang berat bagi organisasi dan orang-orang. Perasaan bercampur aduk menghadapi ketidakpastian. Perasaan yang bisa berakibat pada menurunnya kinerja. Perasaan / keadaan emosi seseorang sifatnya fluktuatif. Terkadang baik, terkadang kurang baik. Ini yang harus terus dimonitor oleh perusahaan atau organisasi. Karena kita tahu bahwa perasaan seseorang akan berdampak pada kinerjanya.

Mengukur tingkat energi

Energi yang dimaksud bukan energi fisik seperti bisa lari sekian jauh. Tetapi energi ketika saat bekerja. Antusiasme saat bekerja. Pada saat kita mengukur energi, hindari melakukan pengukuran secara ‘pulse’ atau sekali saja. Pengukuran ini harus dilakukan dengan frekuensi yang lebih sering. Namun bukan berarti setiap hari kita lakukan pengukuran. Idealnya 2 atau 3 bulan sekali. Tujuannya adalah agar kita bisa memersiapkan ‘obat’ jika menemui karyawan yang energi nya rendah atau kurang ideal.

Mengidentifikasi gaya kepribadian

Tujuannya supaya para leader bisa lebih menyesuaikan pendekatannya kepada anak buahnya. Di masa seperti ini hal terakhir yang kita mau adalah menambah rasa frustrasi orang-orang. Pemimpin harus lebih peka terhadap anak buahnya. Karena jika anak buahnya frustrasi sehinggak kinerjanya buruk, tentu akan berdampak pula pada kinerja pemimpinnya.

Mengukur hambatan motivasi

Uang memang bisa memotivasi. Namun uang bukan satu-satunya hal yang bisa memotivasi. Asesmen hambata motivasi bisa mengidentifikasi hal-hal yang bisa memotivasi seseorang. Harapannya adalah ketika kita penuhi kebutuhan tersebut, maka tingkat motivasi orang yang bersangkutan akan meningkat.

Employee engagement survey

Asesmen ini akan sangat berguna. Di masa sulit, perusahaan mungkin akan melakukan koreksi atas strategi yang dijalankannya. Ini bisa berarti perubahan strategi. Perubahan strategi kemungkinan akan menuntuk perubahan cara bekerja. Peran manajemen perubahan akan menjadi penting disini. Apabila tingkat employee engagement rendah, maka tugas-tugas manajemen perubahan akan menjadi lebih berat. Yang penting adalah kita memersiapkan rencana perubahannya. Yang kita hindari adalah situasi dimana employee engagement rendah namun manajemen perubahan dilakukan secara minimal.

Keadaan pasti akan membaik. Namun bukan berarti kita hanya pasrah menunggu. Kita tetap mengupayakan yang terbaik. Asesmen hanyalah alah pengukuran. Tindakan yang akan dilakukan yang menjadi lebih penting. Selamat mencoba. []

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *