Blended Learning dan Implemenatasinya di Perusahaan

Blended Learning sebenarnya telah diperkenalkan sejak akhir 1990-an. Namun, akhir-akhir ini popular kembali karena kebutuhan yang mendesak di Era New Normal yang terus digaungkan oleh pemerintah. Tapi sebenar apa sih yang dimaksud dengan Blended Learning, mengapa dibutuhkan dan bagaimana penerapannya?

Banyak definisi yang akan kita dapatkan apabila kita hendak mencari apa arti dari Blended Learning, namun biasa didefinisikan secara sederhana :

Blended Learning adalah metode pembelajaran yang menunjukkan berbagai kemungkinan yang disajikan dengan menggabungkan internet dengan media digital dengan bentuk ruang kelas yang mapan yang membutuhkan kehadiran guru dan siswa secara fisik dan secara online” (Friesen, 2012)

Dengan definisi di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa, Blended Learning adalah kegiatan belajar mengajar yang tidak terbatas ruang dan waktu. Di dalam training Blended Learning dapat diterapkan sehingga setiap orang yang membutuhkan pengembangan skill tidak berhambat dengan benturan keadaan dan waktu.

Hambatan keadaan bisa berupa jarak maupun kondisi New Normal yang membatasi jumlah pertemuan dalam training. Menjawab hambatan waktu yang sering menjadi alasan seseorang untuk mengembangkan skill nya, blended learning membuat alas an itu tidak berlaku lagi karena dengan ini peserta bukan hanya bisa belajar di mana saja tapi juga kapan saja.

Selain menjawab hambatan yang sering ditemui saat melakukan Offline Training saja, Blended Learning memberikan ruang untuk pengajar dan peserta dapat berkreasi lebih luas. Di saat-saat tertentu pelaku training dapat mengembangkan skillnya bersama-sama dengan dengan peserta lainnya, entah bertatap muka secara langsung maupun online.

Di saat lainnya, Blended Learning menyediakan cara agar peserta dapat secara individu mengembangkan skillnya. Tentu pengembangan diri secara individu itu tetap didampingi, diawasi dan memiliki tolak ukur untuk melihat seberapa besar usaha dan hasil dari training yang dia lakukan secara mandiri.

Secara Mandiri di sini bukan berarti peserta akan dibiarkan belajar sendiri, tapi peserta diberi kepercayaan menjalani tugas yang diberikan sendiri untuk kemudian dinilai oleh pengajar yang bertanggung jawab atas training yang peserta ikuti.

Sayangnya, masih banyak kekhawatiran yang sering muncul untuk memilih Blended Learning sebagai solusi metode training di zaman sekarang. Hal-hal yang menjadi kekhawatiran itu, misalnya:

1. Pengajar yang Tidak Siap

Pengajar Training atau Fasilitator memang harus memiliki kesiapan dalam menjalankan Blended Learning yang memaksa untuk menguasai berbagai alat yang dapat dipakai saat Blended Learning diadakan. Misalnya, saat ingin memecahkan suasana secara online atau mengadakan Quiz Online yang bisa diakses kapan saja.

Fasilitator harus mempunyai beberapa refrensi yang dapat dia sendiri operasikan dan mudah digunakan oleh peserta training. Fasilitator juga harus dapat menjelaskan secara online mengenai tujuan setiap kegiatan yang peserta lakukan. Tentunya mengomunikasikan sesuatu secara online tidaklah semudah menyampaikan pesan saat bertatap muka, sehingga fasilitator harus dapat secara terstrukstur mengomunikasi pesan yang hendak disampaikan.

2. Peserta yang Tidak Serius

Keseriusan peserta sering kali menjadi pertanyaan saat Blended Learning diadakan. Bagaimana kita mengetahui peserta serius dalam mengikuti pengembangan skill yang sedang berlangsung sedangkan, di kelas saja seringkali peserta tidak fokus mendengarkan Fasilitator yang dapat bertatap muka dengannya?

Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa, Blended Learning haruslah memiliki tolak ukur. Sehingga, setiap materi dan kegiatan dalam Blended Learning harus dipersiapan dengan baik untuk dapat menunjukkan hasil perkembangan peserta setiap melakukan pembelajaran dan tugas yang diberikan.

Lalu, bagaimana Perusahaan dapat mengimplementasi Blended Learning bagi pengembangan skill karyawannya? Berikut adalah 3 tips yang harus diperhatikan dalam mengimplementasikan Blended Learning bagi Perusahaan:

1. Pengajar yang Berkompeten

Pengajar yang Kompoten bukan hanya Pengajar yang menguasai materi pelatihan dengan baik tetapi, juga memiliki keahlian dalam menggunakan tools setiap saat dalam pelatihan, baik itu pelatihan offline maupun pelatihan online.

2. Materi yang Dibutuhkan Peserta

Materi yang dibutuhkan peserta tidak harus berisi kompetensi yang mendukung indikator atau hasil yang diharapkan dari pelatihan yang dilakukan.

3. Tugas yang Kreatif

Tugas yang kreatif dan inovatif dibutuhkan bukan hanya untuk menarik minat peserta namun, juga untuk membuat peserta bertahan dan setia menjalani proses pelatihan sampai akhir.

Tanpa persiapan yang cukup Blended Learning hanya akan mewujudkan ketakutan perusahaan akan kegagalan pelatihan/training. Namun, tanpa Blended Learning perusahaan hanya akan membiarkan dirinya tertinggal di Era Baru yang perubahanannya kian cepat terjadi.

Bayangkan kalau karyawan kita tidak mampu beradaptasi dengan keadaan. Efeknya akan membuat perusahaan ketinggalan zaman dan mengecewakan konsumen lama yang telah setia bekerja sama perusahaan kita. Saat konsumen lama kita kecewa dengan kinerja kita yang tidak menjawab kebutuhan konsumen lama yang juga selalu dihadapkan dengan perubahan, bagaimana bisa perusahaan mendapatkan konsumen yang baru?

Mempertahankan hubungan lama saja sulit, konsumen lain akan berpikir berkali-kali untuk menjadi konsumen baru perusahaan karena citranya tidak lagi sepadan.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *