Akhir-akhir ini, kita sering mendengar istilah quiet quitting di dunia kerja. Banyak leader salah kaprah dan mengira fenomena ini sama dengan karyawan yang tiba-tiba malas bekerja. Padahal, faktanya berbeda. Karyawan yang melakukan quiet quitting hanya menyelesaikan tugas sebatas deskripsi pekerjaan utama mereka, tanpa mau memberikan usaha ekstra.

Sebagai leader, Anda wajib mengenali ciri-ciri quiet quitting ini sejak dini agar Anda bisa segera mengambil langkah pencegahan dan menjaga produktivitas tim. Cermati lima tanda berikut:

1. Menjadi “Si Paling Tenggo”

Anda mungkin ingat, dulu mereka sering membantu pekerjaan rekan satu tim atau rela menunda jam pulang saat kondisi urgent. Sekarang, mereka langsung mematikan laptop tepat pukul 17.00. Mereka menghitung kontribusi waktu secara presisi dan menolak memberikan toleransi waktu tambahan.

2. Menunjukkan Sikap Pasif dan Kehilangan Inisiatif

Anggota tim yang dulu aktif melontarkan ide saat brainstorming, kini merespons seadanya. Mereka hanya menjawab, “Oke, Pak,” atau “Siap, Bu.” Mereka tetap menyelesaikan instruksi Anda dengan baik, tetapi mereka tidak lagi berusaha memberikan nilai tambah atau inovasi pada pekerjaannya.

3. Mengabaikan Pesan di Luar Jam Kerja (Ghosting)

Pernahkah Anda mengirim pesan terkait pekerjaan pada pukul 8 malam, dan mereka baru membalasnya pukul 9 pagi keesokan harinya? Mereka sedang membangun batasan emosional yang tegas antara urusan kantor dan kehidupan pribadi. Mereka memutus semua akses komunikasi profesional begitu jam kerja resmi selesai.

4. Menghindari Diskusi Tentang Prospek Karier

Dulu, mereka mungkin sangat ambisius mengejar jenjang karier. Namun, saat Anda mengajak mereka berdiskusi tentang peluang promosi atau proyek baru yang menantang, mereka menolaknya dengan alasan: “Tidak usah Pak/Bu, saya fokus di peran ini saja dulu.” Mereka tidak lagi melihat prospek masa depan bersama perusahaan Anda.


5. Menarik Diri dari Interaksi Sosial Kantor

Anda perlu mengamati perubahan sosial anggota tim Anda. Dulu, mereka sering mengobrol santai di pantry atau makan siang bersama rekan kerja. Sekarang, mereka terus memakai headset, memilih makan siang sendiri, dan menghindari obrolan di luar urusan pekerjaan. Mereka membatasi “investasi emosional” di lingkungan sosial perusahaan.

Langkah Apa yang Harus Leader Ambil?

Kita harus menyadari satu hal penting: karyawan tidak tiba-tiba menjadi apatis. Quiet quitting sering kali muncul sebagai akibat dari kelelahan mental (burnout) di tempat kerja yang tidak pernah pemimpin dengar, atau karena perusahaan menganggap kerja keras ekstra mereka sebagai kewajiban biasa.

Anda perlu melakukan refleksi diri. Kapan terakhir kali Anda menanyakan kabar tim Anda sebagai manusia seutuhnya, bukan sekadar menagih hasil pekerjaan?

Untuk mengatasi masalah ini, Anda harus membangun komunikasi yang efektif dan meningkatkan employee engagement. MDI Tack menyediakan berbagai program pelatihan kepemimpinan yang terstruktur untuk membantu leader di perusahaan Anda merangkul kembali anggota tim dan mengembalikan motivasi mereka.

Konsultasikan dengan kami sekarang juga melalui:

Telp: (+62)851-7546-9337

Email: training@mditack.co.id