Pentingnya Melakukan Asesmen Training Needs Analysis Sebelum Meberikan Pelatihan

Pentingnya Asesmen Training Needs Analysis Sebelum Melakukan Pelatihan. Kita sama-sama tahu bahwa pelatihan karyawan adalah investasi. Meningkatnya kinerja karyawan akan turut meningkatkan kinerja perusahaan. Namun, yang harus dihindari adalah, jangan sampai investasi yang kita keluarkan ini berakhir sia-sia.

Modul-modul pelatihan sebisa mungkin mengakomodir kebutuhan pengembangan SDM. Ada beragam cara yang dapat digunakan untuk menganalisis kebutuhan pelatihan. Bisa dari melihat data KPI atau manajemen kinerja, bisa juga dengan melakukan asesmen, baik itu asesmen yang sederhana maupun yang kompleks.

Sebagai dasar dalam menentukan modul-modul dalam pelatihan

Ambil contoh misalnya kita mengidentifikasi secara garis besar, karyawan kita memerlukan pelatihan terkait komunikasi. Yang perlu kita identifikasi lebih dalam adalah, hal-hal yang lebih spesifik terkait komunikasi. Apakah modul nya berupa proses komunikasi dasar? Atau justru yang diperlukan adalah modul komunikasi digital?

Dengan asesmen sederhana kita bisa mengidentifikasi hal-hal seperti ini secara lebih detil. Memang kita belum tentu bisa mengakomodir 100% dari kebutuhan peserta pelatihan. Tapi paling tidak mengakomodir mayoritas dari kebutuhan yang muncul.

Untuk menentukan siapa peserta yang perlu didahulukan

Secara singkat, peserta yang perlu didahulukan biasanya adalah mereka dengan ‘competency gap’ yang paling besar. Namun bisa juga dari peserta dengan competency gap yang paling kecil. Yang penting kita punya dasar penentuan yang lebih jelas, lebih rasional, daripada sekedar siapa peserta yang ‘sempat’.

Selain untuk menentukan peserta yang didahulukan, kita juga bisa melakukan ‘fine tuning’ terhadap modul pelatihannya. Jadi setiap kelas / batch belum tentu perlu isi modul yang 100% sama. Bisa jadi perlu sedikit berbeda.

Untuk menentukan durasi modul pelatihan

Durasi yang terlalu singkat bisa jadi kurang efektif. Durasi yang terlalu panjang bisa jadi membuang-buang uang dan waktu. Belum lagi peserta yang menjadi mudah bosan sehingga efektivitas pelatihan juga turun. Yang menjadi dasar pertimbangan durasi salah satunya balik lagi adalah competency gap.

Modul-modul yang hasil asesmen nya menunjukkan competency gap yang sangat besar, bisa jadi durasi modul tersebut dibuat lebih panjang. Demikian juga sebaliknya.

Jadi, saat ini dimana teknologi digital sudah berkembang pesat, melakukan asesmen juga semakin praktis. Platform digital banyak menggantikan ‘paper work’ dari asesmen konvensional. Demikian hal nya tentang pengolahan data hasil asesmen, bisa dilakukan secara otomatis, tidak perlu dihitung secara manual.

Dan yang paling canggih adalah reporting / pelaporan hasil asesmen juga bisa dilakukan secara otomatis. Jadi, asesmen kebutuhan pelatihan sekarang ini yang semakin praktis dan juga semakin murah, menjadi ‘pengaman’ dalam menentukan modul-modul pelatihan karyawan. Selamat mencoba.

 

Ditulis oleh

Billy Johanes Siby

Fasilitator MDI Tack

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *