Tantangan Dalam Mengikuti Pelatihan Virtual

Selama masa pandemi ini program pelatihan banyak yang tertunda, terutama pelatihan yang bersifat tatap muka langsung / pelatihan offline.

Namun dengan dimulainya beberapa pelatihan berbasis virtual, para HR menyadari bahwa pelatihan tetap bisa dijalankan agar proses pengembangan SDM perusahaan tidak mengalami stagnansi.

Dalam proses pelaksanaannya tidak sedikit tantangan yang dihadapi dalam proses pelatihan virtual tersebut, antara lain:

Kondisi pelatihan

Kondisi pelatihan dimana peserta banyak pasif. Dengan situasi peserta seperti ini, dapat menyulitkan sorang fasilitator / trainer untuk dapat segera mengetahui dimana peserta pelatihan sudah memahami materi yang disampaikan atau belum. Maka itu seorang fasilitator / trainer harus mampu membaca situasi peserta melalui aktivitas-aktivitas yang lebih interaktif.

Masalah Koneksi

Terkadang fasilitator / trainer harus menjaga konektivitas dengan peserta. Pada saat seorang fasilitator / trainer memberikan pelatihan virtual, tidak jarang peserta menghadapi sedikit gangguan dari lingkungan yang ada di sekitarnya. Baik itu terkait pekerjaan rutinitasnya di kantor atau dirumah, mengikuti pelatihan sambil berjalan / berkendara, dsb. Gangguan yang seperti ini tidak dapat dihindari, sehingga proses penyampaian pelatihan perlu penyesuaian dan komitmen di awal antara fasilitator dengan peserta agar bisa saling memahami situasi masing-masing.

Pembagian Kelompok

Membagi diskusi kelompok antar peserta. Bila pelatihan dilakukan secara tatap muka / pelatihan offline, seorang fasilitator / trainer akan membagi beberapa kelompok untuk mendiskusikan sebuah masalah. Dengan pelatihan virtual ini, pembagian tersebut dibutuhkan kesiapan seorang fasilitator / trainer untuk membagikannya secara terpisah berdasarkan kelompoknya. Perlu dipantau dari setiap kelompok secara terpisah tersebut agar peserta tetap bisa menjalankan diskusinya dengan benar sesuai waktu yang ditentukan.

 Jaringan internet. Di Indonesia memiliki infrastruktur jaringan internet yang belum stabil, baik di kota maupun di daerah, dimana belum seluruhnya wilayah di Indonesia ter-cover jaringan internet yang memadai. Biaya untuk kuota internet di Indonesia masih dianggap terlalu mahal jika dibandingkan negara-negara di Asia Tenggara lainnya.
Setidaknya tantangan pelatihan virtual ini bisa diminimalisasi oleh pihak HR dalam hal kesiapan para pesertanya dan dari pihak lembaga training / vendor untuk menyiapkan fasilitator / trainer yang bisa mengangkat situasi pelatihan virtual melalui aktivitas dan interaksi yang intensif.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *