Pelatihan Online Vs Pelatihan Offline, Mana Yang Lebih Baik?

Membahas pelatihan online vs pelatihan offline, tampaknya menjadi satu tantangan tersendiri. Apalagi bagi para HR.

Beberapa data menunjukkan bahwa peminat pelatihan online pada akhir-akhir ini meningkat tajam dan mengalahkan pelatihan offline (tatap muka). Apalagi dimasa physical distancing seperti sekarang ini, semua kegiatan hampir dilakukan secara online.

Tetapi, apakah pelatihan online bisa menjadi solusi terbaik baik untuk pembelajaran offline? Mari kita melihat ulasan berikut ini, dan mendapatkan perbandingan yang jelas pelatihan online vs pelatihan offline, mana yang lebih baik?

Pelatihan Online Vs Pelatihan Offline Dilihat dari tingkat partisipasi

Dalam sebuah perusahaan, mengadakan pelatihan bagi karyawan meruapakan satu hal yang sangat penting. Bahkan dari pengalaman kami sebagai vendor training di Indonesia, beberapa perusahaan justru mewajibkan untuk karyawannya mengikuti pelatihan. Jika tidak, maka bisa dipastikan karyawan tersebut tidak bisa ikut promosi jabatan.

Di salah satu sisi, karyawan yang mengikuti pelatihan memiliki waktu yang sangat terbatas. Inilah yang seringkali menjadi “masalah” utama sebelum pelatihan itu dimulai. Karena itu, banyak karyawan akhirnya memilih untuk mengambil pelatihan online (online learning) selama jam kerja.

Alasannya bukan karena pelatihan online itu baik. Tapi karena lebih sedikit waktu daripada pembelajaran tatap muka, dan mereka dapat megikutinya kapanpun mereka inginkan. Beda halnya jika kelas yang diadakan adalah tatap muka, maka setiap peserta harus memastikan atau mengosongkan agendanya selama satu hari.

 

Pelatihan Online Vs Pelatihan Offline Dilihat dari investasinya

Harga selalu menjadi soal tersendiri bagi perusahaan untuk mengadakan pelatihan karyawan.  Karenanya, jika Anda ingin menyiapkan pelatihan offline atau tatap muka, uang yang harus Anda keluarkan tidaklah sedikit. Sementara jika pelatihan online seringkali jauh lebih terjangkau.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya karena Anda tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan: biaya perjalanan, fasilitas pelatihan, menyewa pelatih, atau mencetak materi pelatihan, dan sebagainya.

Kalau begitu, di sini bisa disimpulkan apakah pelatihan online sudah pasti lebih baik? Tunggu dulu. Karena argumen ekonomi, tidak bisa menentukan apakah Anda memilih pelatihan online daripada pelatihan offline.

 

Lalu apakah ada kesamaannya?

Jika Anda riset, metode pembelajaran online dan offline sebenarnya memiliki banyak perbedaan ketimbang kesamaannya. Namun bukan berarti tidak ada persamaannya. Nah, persamaan yang mendasar adalah kedua metode ini sama-sama efektif untuk mengembangkan karyawan di perusahaan Anda.

 

Mana yang paling Efektif?

Oke, yang harus Anda sadari terlebih dahulu adalah pembelajaran online merupakan alternatif untuk meningkatkan kemampuan karyawan.

Tapi, kami tidak dapat mengatakan bahwa pembelajaran online lebih efektif daripada pembelajaran offline, atau sebaliknya. Kenapa demikian? Karena itu tentu tergantung pada topik pelatihan dan bagaimana efektivitas sebuah pelatian diukur. Tetapi secara keseluruhan, pembelajaran online adalah alternatif paling dekat (untuk saat ini).

 

Dan manakah yang terbaik?

Anda pasti penasaran pelatihan online vs pelatihan offline, mana yang lebih baik? Tapi sayangnya, kami tidak bisa memilihnya. Kenapa demikian? Karena itu tidak adil untuk salah satu metode pembelajaran. Karena keduanya memiliki kelebihan dan juga kekurangan.

Oke, lalu manakah metode pembelajaran mana yang tepat untuk karyawan atau organisasi? Untuk menjawab hal tersebut, tergantung pada banyak faktor:

  1. Berapa banyak anggaran yang Anda miliki?
  2. Apa topik pembelajarannya? Apakah berbasis praktek atau berbasis knowledge saja?
  3. Apa yang ingin Anda capai dengan pembelajaran? Apakah meningkatkan keterampilan atau hanya menjaga karyawan Anda agar tidak ketinggalan informasi terbaru terkait standar perusahaan?
  4. Berapa lama waktu yang ingin Anda habiskan untuk mengadakan pelatihan? Dan berapa banyak waktu yang bisa dimiliki oleh karyawan Anda untuk ikut pelatihan?
  5. Apa tingkat motivasi karyawan Anda?
  6. Apakah Anda memiliki karyawan dengan berbagai lintas usia? Apakah Anda terutama bekerja dengan milenium atau mayoritas tenaga kerja Anda dari generasi baby boomer?

 

Nah, tapi yang harus menjadi catatan adalah memilih salah satu dari metode yang ada bisa dikatakan terlalu kaku. Tapi jika Anda mau, Anda bisa mengambil langkah yang lain, dimana Anda bisa menggabungkan sisi-sisi terbaik dari kedua dunia (online atau offline). Untuk itu, Anda perlu mempertimbangkan blended learning.

 

Ditulis oleh:

Arif Hidayat

Fasilitator MDI Tack

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *