Meningkatkan Efektivitas dari Blended Learning

Pandemi Covid-19 membawa berbagai dampak kepada bisnis. Ada bisnis yang mendapatkan peluang untuk berkembang, namun banyak juga bisnis yang goyang. Lalu pertanyaan di masa pandemic ini adalah apakah kita harus tetap mengembangkan karyawan kita? Bukankah itu menambah biaya? Apakah mungkin tetap melaksanakan pelatihan secara tatap muka? Apakah pelatihan secara digital tetap efektif?

Yang perlu kita pahami terlebih dahulu yaitu motor penggerak perusahaan adalah karyawan dalam perusahaan. Jadi, karyawan tetap perlu dikembangkan namun kita harus menggunakan cara-cara yang lebih berbiaya rendah, namun tetap mengusahakan agar tetap efektif. Program pelatihan secara digital ada banyak versinya seperti dengan video, podcast, dengan instruktur virtual (VILT), dengan memberikan tugas membaca kasus, dan lain sebagainya. Atau juga bisa dikombinasikan dari beberapa hal tersebut yang sekarang ini populer dengan sebutan ‘Blended Learning’.

Memang sulit untuk menyamai tingkat efektivitas dari pelatihan secara tatap muka, namun ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan tingkat efektivitasnya. Jika Anda berencana atau sudah memutuskan untuk mengadopsi metode blended learning sebagai program pengembangan karyawan Anda, berikut hal-hal ‘extra’ yang perlu Anda perhatikan:

Commitment

Maksudnya adalah komitmen ekstra. Semua pihak yang terlibat (tidak hanya peserta) harus memiliki komitmen ekstra untuk mengikuti dan menyelesaikan program pelatihan. Tanpa ini, efektivitas blended learning bisa luntur di tengah jalan. Lalu bagaimana caranya agar pihak-pihak yang terlibat bisa berkomitmen ekstra? Bisa dimulai dengan membentuk ‘support system’ atau mekanisme yang memungkinkan bagi semua pihak untuk saling mendukung, saling menolong.

Memang kesulitan pasti akan ada, dan orang bisa ter-demotivasi jika gagal menemukan solusi dari kesulitas tersebut, dan demotivasi bisa menurunkan komitmen. Maka dari itu, mekanisme saling mendukung disini berperan sangat penting. Misalnya ada peserta yang mengalami kesulitan teknis terkait mengikuti pelatihan, pihak panitia bisa dengan sigap membantu, atau pihak penyelenggara juga bisa sigap membantu. Atau misalnya juga pihak panitia kesulitan untuk mengolah data calon peserta pelatihan, maka pihak penyelenggara bisa membantu.

Monitoring

Berbeda dengan pelatihan secara tatap muka dimana dalam 1 hari pelatihan peserta menghabiskan waktu bisa sampai 8 jam, pelatihan Blended Learning harus kita pecah-pecah menjadi porsi yang kecil-kecil. Misalnya hari pertama berdurasi 2 jam, hari kedua berdurasi 1 jam, hari ketiga 3 jam, dst.

Tantangan yang muncul adalah untuk memonitor progress. Kita harus bisa mengetahui apakah peserta mengikuti seluruh bagian pelatihan, atau apakah ada bagian-bagian yang belum diikuti karena misalnya ada kendala teknis, atau ada meeting mendadak, dan lainnya.

Teknologi digital semakin berkembang membuat kita semakin hari semakin mampu untuk melakukan monitoring. Tantangannya adalah apakah kita memberikan daya dan upaya yang cukup untuk monitoring tersebut? Atau hanya dijadikan sebagai sekedar pelengkap saja?

Engaging & Fun

Monoton adalah musuh utama dari Blended Learning. Bayangkan setiap mengikuti pelatihan, peserta hanya diminta untuk menonton video kemudian mengerjakan kuis. Pastinya akan sangat membosankan dan lagi-lagi komitmen nya bisa luntur tengah jalan.

Disini teknologi digital juga sudah semakin berkembang dimana kita bisa menghadirkan aktivitas-aktivitas digital yang seru dan mendukung pelatihan, Kita bisa mendesain program pelatihan yang didalamnya terdapat permainan interaktif yang mana peserta bisa bersaing secara ‘live’ dengan peserta lain. Kita bisa menggunakan assessment digital yang formatnya video, dan lain sebagainya.

Semakin banyak variasinya akan semakin baik yang tentunya tetap seirama dengan tujuan  dari pelatihan tersebut. Ingat, monoton akan membuat bosan dan akhirnya akan menurunkan tingkat komitmen.

 

Demikian 3 hal ‘extra’ yang harus Anda perhatikan ketika mengadopsi metode Blended Learning agar tingkat efektivitas pelatihannya tetap terjaga. Dan akhirnya, program pelatihan (apapun metodenya) yang dilakukan dengan efektif adalah ‘Money Well Spent’. Selamat mencoba.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *