Flow With Emotional Quotient

flow with emotional quotient

Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting yang berkaitandengan memberi perhatian, memotivasi dirisendiri, menguasai diri sendiri, dan berkreasi di dalamteknik kepemimpinan. Berikut ini kunci untuk EI Anda:

Walaupun memiliki audiens yang beragam, dua pertanyaan yang sering saya ajukan untuk mengawali kelas Emotional Intelligence biasanya adalah: “1. Ingatkah Anda pada 5 orang tercerdas yang pernah Anda kenal di sekolah?” dan “2. Apakah mereka berlima otomatis menjadi orang-orang tersukses yang pernah Anda kenal di pekerjaannya masing-masing?”

Flow

Untuk menumbuhkan motivasi seseorang perlu adanya kondisi flow pada diri orang tersebut. Flow adalah keadaan lupa sekitar, lawan dari lamunan dan kekhawatiran, bukannya tenggelam dalam kesibukan yang tak tentu arah. Momen flow tidak lagi bermuatan ego. Orang yang dalam keadaan flow menampilkan penguasaan hebat terhadap apa yang mereka kerjakan, respon mereka sempurna senada dengan tuntutan yang selalu berubah dalam tugas itu, dan meskipun orang menampilkan puncak kinerja saat sedang flow, mereka tidak lagi peduli pada bagaimana mereka bekerja, pada pikiran sukses atau gagal. Kenikmatan tindakan itu sendiri yang memotivasi mereka (Goleman, 2002:128).

 Flow merupakan puncak kecerdasan emosional. Dalam flow emosi tidak hanya ditampung dan disalurkan, akan tetapi juga bersifat mendukung, memberi tenaga, dan selaras dengan tugas yang dihadapi. Terperangkap dalam kebosanan, depresi, atau kemeranaan kecemasan menghalangi tercapainya keadaan flow. Menurut Goleman (2002:128-129), salah satu cara untuk mencapai flow adalah dengan sengaja memusatkan perhatian sepenuhnya pada tugas yang sedang dihadapi. Keadaan konsentrasi tinggi merupakan inti dari kinerjayang flow.

 Flow merupakan keadaan yang bebas dari gangguan emosional, jauh dari paksaan, perasaan penuh motivasi yang ditimbulkan oleh ekstase ringan. Ekstase itu tampaknya merupakan hasil samping dari focus perhatian yang merupakan hasil prasyarat keadaan flow.

Mengamati seseorang yang dalam keadaan flow memberi kesan bahwa yang sulit itu mudah, puncak performa tampak alamiah dan lumrah. Ketika dalamkeadaan flow otak berada pada keadaan “dingin”.

Optimisme

Adapun selain itu yang berkaitan dengan motivasi adalah optimisme. Optimisme seperti harapan berarti memilikipengharapan yang kuat bahwa secara umum, segalasesuatu dalam kehidupan akan sukses kendati ditimpakemunduran dan frustasi. Dari titik pandang kecerdasanemosional, optimisme merupakan sikap yang menyanggaorang agar jangan sampai jatuh dalam kemasabodohan,keputusasaan atau depresi bila dihadang kesulitan, karenaoptimisme membawa keberuntungan dalam kehidupanasalkan optimisme itu realistis. Karena optimisme yangnaif membawa malapetaka (Goleman, 2002:123).

Orang yang optimis memandang kemunduran sebagai akibat sejumlah faktor yang bias diubah, bukan kelemahan atau kekurangan pada diri sendiri. Berbeda dengan orang pesimis yang memandang kegagalan sebagai penegasan atas sejumlah kekurangan fatal dalam diri sendiri yang tidak dapat diubah.